Hasil studi Hawlett-Packard dan Universitas Paramadina dalam program HP National Education Technology Readiness Assessment menyebutkan jika 85% siswa menggunakan ponsel saat berada di kelas tanpa sepengetahuan dari gurunya.
Data tersebut berbanding terbalik dengan kebiasaan para guru bersentuhan dengan teknologi informasi. Setidaknya 33% guru yang diwawancari mengakses internet yang hanya sesekali dalam beberapa bulan.
“Gurunya masih kurang melek internet, sementara siswa-siswanya maju lebih tinggi,” ujar Wali Kota Bogor Bima Arya seusai acara Peluncuran Hasil Penilaian Kesiapan Teknologi Pendidikan Nasional di ruang Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Kamis (23/11/2017).
Survei yang berusaha mengetahui kesiapan penggunaan teknologi di sekolah-sekolah ini diikuti 2.260 siswa, 334 guru, dan 220 orangtua di Kota Bogor. Survei ini dilakukan selama tiga pekan di 33 sekolah di Kota Bogor.
Hasil survei NETr ini secara umum menunjukkan tingginya kebutuhan teknologi bagi pendidikan sebagai alat pendukung proses belajar mengajar, baik antara guru dan para siswa, maupun antara orang tua dan anak.
Survei juga menemukan jika 99% siswa bersikap optimis tentang masa depan mereka, dan setuju bahwa komputer dan teknologi akan meningkatkan pengalaman belajar dan produktivitas mereka. Di sisi lain, 97% siswa percaya bahwa mempelajari keahlian komputer dan teknologi akan menjadi bekal yang lebih baik untuk pekerjaan mereka di masa depan.
Pandangan positif tentang pengaruh baik penggunaan teknologi dalam proses belajar juga diamini para guru dan orangtua 99% guru menyatakan bahwa teknologi akan memberikan dampak yang lebih besar bagi proses belajar siswa. Sementara 97% orangtua setuju teknologi memiliki peranan penting dalam pembelajaran guna menambah kompetensi mereka untuk berkompetisi secara global.
Sayangnya, tingkat kebutuhan teknologi yang tinggi ini tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas memadai. Buktinya, hanya 37% responden yang merasa bahwa sekolah-sekolah negeri yang ada saat ini telah dilengkapi dengan perangkat teknologi yang cukup mumpuni.
Kota Bogor merupakan daerah pertama di wilayah Asia Pasifik dan Jepang yang menjadi lokus studi NETr. Dimulai dari Kota Bogor, rekomendasi NETr bertujuan untuk melengkapi blueprint pendidikan tingkat dunia di abad ke-21 serta mengembangkan tenaga kerja dengan dasar pengetahuan lengkap.
Terkait hasil survei, Bima mengatakan jika Pemerintah Kota Bogor bakal menjadikannya sebagai rujukan dalam memutuskan kebijakan di sektor pendidikan. Ia juga mendorong penggunaan teknologi informasi sebagai medium pembelajaran diterapkan di seluruh sekolah di Kota Bogor.
Selain itu, Bima juga meminta agar para guru yang menjadi pendidik agar lebih melek teknologi. Kondisi melek teknologi ini diperlukan agar institusi pendidikan bisa menjawab tantangan dan kebutuhan zaman.
"Bagaimanapun, ini semua tidak akan berjalan lancar tanpa pemberdayaan guru dengan standar kompetensi abad ke-21. Setiap kelas di Indonesia harus mulai menggunakan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar,” katanya.
Presiden Direktur HP Indonesia, David Tan, mengatakan survei yang digalang HP merupakan salah satu bentuk dukungan pihaknya untuk mendorong penggunaan teknologi informasi di sektor pendidikan formal.
"Kami dari HP Indonesia berkomitmen untuk mendukung segala bentuk pemberdayaan guru dan untuk membantu siswa dari segala usia meraih sukses dengan teknologi,” kata dia.
Sumber : ayobogor.com
Sumber yang kami dapat berasal dari berbagai sumber online dan Sumber lapangan langsung
FOR INFO CALL US
08155559151
corpsmilitary@gmail.com
